5 Pemicu yang Konon Merupakan Sejarah Permusuhan Aremania dan Bonek
Kira-kira, kapan dua kubu ini bisa bersatu???????
Perseteruan
antar suporter memang selalu ada di tim kesebelasan manapun. Di
Indonesia sendiri, begitu banyak konflik yang terjadi antar pendukung
sepak bola. Salah satu yang mendarah daging adalah permusuhan antara
Bonek (suporter Persebaya Surabaya) dan Aremania (suporter Arema
Indonesia). Kedua kubu penggemar bola tersebut seolah tak pernah
mengenal kata damai, bahkan sejak puluhan tahun lalu.
Namun, setiap permusuhan tentulah memiliki sejarah tersendiri.
Tahukah kamu apa yang mendasari selisih paham antar dua golongan
tersebut? Berikut ini adalah beberapa poin yang diduga menjadi latar
belakang buruknya hubungan dua fans kesebelasan tersebut.
1. Berawal dari tawuran Tambaksari
Tanggal 23 Januari 1990 diduga adalah awal mula terjadinya konflik
antar dua kubu tersebut. Saat itu, para suporter bola tengah menyaksikan
konser Kantata Takwa di Tambaksari, Surabaya. Sekitar 30 menit pertama
sejak konser dimulai, para Bonek merasa geram karena area di depan
panggung dikuasai oleh para arek Malang, terlebih mereka terus bersorak,
“Arema… Arema…” Bonek yang merupakan tuan rumah merasa terganggu. Ilustrasi Aremania vs Bonek [image source]Mereka
pun menambah rombongan lebih banyak untuk berusaha memukul mundur
orang-orang Malang sampai keluar dari Tambaksari. Namun, para Aremania
tak begitu saja menyerah saat diusir oleh tuan rumah. Mereka melakukan
perlawanan di luar Stadion. Tawuran hebat pun tak bisa dielak lagi,
bahkan berlanjut sampai di sekitar Stasiun Gubeng. Perselisihan tersebut
berlanjut hingga tahun-tahun yang lain. Tahun 1992, tawuran pun kembali
terjadi di lokasi yang sama. Namun, saat itu para Bonek sengaja
menguasai depan panggung lebih awal. Mereka juga menghalau kedatangan
Aremania yang berniat masuk kawasan Tambaksari. Perkelahian pun tak bisa
dihindari.
2. Pemberitaan media yang dituding sangat tidak adil
Versi lain juga mengatakan jika konflik antara pendukung Persebaya
dan Arema berawal dari adanya kecemburuan Aremania atas pemberitaan
media Jawa Timur. Hal itu karena media Provinsi jarang sekali
memberitakan kemenangan Arema atau Persema saat dua tim tersebut juara.
media jawa timur dan persebaya [image source]Media
tersebut dinilai melakukan diskriminasi, sebab mereka selalu gencar
mengekspos berita-berita tentang Persebaya. Bahkan selalu menjadi
headline meski klub yang diidolakan Bonek tersebut hanya melakukan
latihan rutin di waktu senggang. Para suporter Arema pun mulai jengah
dan timbul rasa benci pada kesebelasan lawan, termasuk para
suporter-nya.
3. Malang yang dulu selalu diremehkan
Menurut cerita lain, dijelaskan bahwa pendahulu Persebaya seperti H.
Barmen dan Mudayat sangat meremehkan Malang. Mereka juga mengatakan jika
tim-tim asal Malang tidak akan pernah bisa mengalahkan tim Surabaya.
Jangankan menang, bermain seri saja akan sangat berat bagi tim Singo
Edan. Pernyataan tersebut konon tertulis dalam media. foto arema tempo dulu [image source]Pemberitaan
itu kontan saja menyakiti hati para suporter Malang. Saat ada berita
tentang rencana kedatangan Bonek ke Malang, para Aremania pun bersiap
mencegat pasukan dari Surabaya itu. Sayangnya, saat Aremania berada di
sekitar pertigaan Karanglo dan Singosari, mereka dihadang oleh para
polisi. Suporter yang marah hanya bisa melampiaskan kekesalan dengan
merusak dan memecahkan kaca-kaca mobil dengan plat L. Mereka juga
membuat spanduk-spanduk bertuliskan “Kalahkan Persebaya, Bungkam Mulut
Besar Barmen dan Mudayat”.
4. Adanya campur tangan media yang mengadu domba
Pada dasarnya, Surabaya dan Malang adalah dua kota yang bertetangga.
Hubungan kedua suporter bola sebelumnya juga adem ayem saja. Namun,
menurut beberapa sumber, memburuknya hubungan dua kubu tersebut diawali
oleh pemberitaan media yang berbau ‘adu domba’. Aremania vs Bonek [image source]Salah
satu contohnya, berita tentang pemain Malang yang katanya melakukan
permainan kasar hingga sengaja membuat pemain Persebaya terjatuh. Adanya
berita tersebut sontak saja membuat hubungan Arema dan Persebaya makin
memanas. Arek-arek Suroboyo pun merasa dendam pada para suporter Malang,
dan selalu ingin menghajar demi membalas kelakuan para pemain Arema
yang dianggap penuh kecurangan.
5. Suporter kesebelasan Malang zaman dulu yang dianggap perusuh
Di era 80-an hingga 90-an, para suporter bola di Malang merupakan
geng-geng yang gemar melakukan aksi tawur antar kampung. Tak jarang
perkelahian mereka juga memakan korban. Namun, setelah dimediatori oleh
Bung Ovan Tobing, aksi brutal tersebut bisa diredam. ilustrasi geng perusuh [image source]Mereka
diajak berdamai atas nama Arema. Para fans sepak bola tersebut bersama
mendukung tim kesayangan mereka. Meski demikian, adanya latar belakang
tawuran tersebut membuat membuat mereka diberi cap tukang perusuh oleh
kubu lain.
Meskipun pernah sangat tidak cocok, namun belakangan upaya untuk penyatuan kedua klub
ini cukup sering dilakukan. Beberapa kali pertemuan internal antar
perwakilan suporter juga dilakukan. Masih ada sedikit gesekan memang,
tapi harapannya ke depannya nanti keduanya bakal semakin damai dan
saling menghormati satu sama lain.
oh gituuu...
BalasHapus